Senin, 26 Maret 2012

Straight Face


Belakangan ini banyak orang yang tanya sama aku kurang lebih pertanyaannya kaya gini "kenapa, ekspresimu selalu datar dam?" ohya sebenernya bukan cuma belakangan ini dulu dulu juga banyak sih yang nanya kaya gitu.. dan setiap ada yang nanya gitu selalu kujawab "Ini bawaan dari lahir hehe" kadang setelah aku jawab kaya gitu aku bisa ngeliat raut wajah kurang puas dari orang yang menanyakannya

Aku bukan tipe orang yang misterius dan suka menyimpan masalah sendiri kok, cuman setelah kujawab "Ini bawaan dari lahir hehe" gak ada yang nanya lebih jauh..jadi aneh kan kalau orang itu gak nanya aku malah jelasin panjang lebar~ jadi  jawaban "Ini bawaan dari lahir hehe" ini semacam penguji apakah kamu serius untuk mendengarkan ceritaku, karna dulu aku gak mau cerita sama orang yang setengah setengah

Nah beberapa waktu belakangan ini ada orang yang berani nanyakan itu bahkan sampai makai ancaman dan parahnya ancaman yang dia pakai itu benar benar kelemahan ku

Jadi aku cerita semua inti permasalahan yang membuat aku punya ekpresi datar, ekspresi gak bersalah dan apalah itu terserah kalian mau menyebutnya apa

Dan ini pertama kalinya ada orang yang sangat antusias dengerin cerita ku, dengan wajah menduga duga dan  gak ada sepatah katapun keluar dari mulutnya... itu membuat kesan betapa seriusannya dia dalam mendengarkan ceritaku

Setelah dengar cerita ku dia langsung ngasih saran : "Tetap aja jadi dirimu sendiri , Cerita aja dengan orang yang nanya gak usah dibikin ribet siapa tau dia ada saran bagus buat kamu " sebenarnya saran yang dia kasih banyak tapi ya kupikir gak usah semuanya

Habis cerita dengan dia aku jadi sadar , bagaimana ya pandangan orang terhadap aku? apa orang mandang aku semacam gak punya hati dan nurani karna gak perduli apapun yang terjadi wajahku tetap datar?

Aku dengan keras membantah aku bukan orang seperti itu -_- , meski wajahku ngatakan aku gak peduli tapi yang ada didalam pikiranku aku peduli kok , sebenarnya aku sama kaya orang lain hanya saja ada sesuatu yang salah tentang latar belakang hidupku

Jadi begini.. dari aku kecil aku terbiasa melihat hal gak lazim yang mestinya bukan hal yang dilihat anak seumuranku .. yaitu "Kekerasan" kekerasan itu sendiri terjadi bukan dalam keluargaku tapi dalam lingkungan tempat tinggalku dan gak jarang kekerasan itu kualami sendiri.. aku mula mula harus menceritakan tempat itu "Teluk lerong" sebuah daerah yang tidak bersih dan tidak juga kumuh dan meski kalian membayangkan bagaimana keadaan lingkungannya itu sama sekali gak berpengaruh banyak di ceritaku karna masalahnya disini adalah "Masyarakat Didalamnya"

Karna keadaan lingkungan sekitar yang kurang bagus ..aku tumbuh dengan tidak normal aku mulai belajar bagaimana caranya bertahan ditempat itu, ditempat itu banyak orang orang yang kutemuin mulai dari preman kelas kakap , pelacur , pengedar narkoba , pemuda yang suka mabuk mabukan , anak yang suka memukuli ibunya , pembunuh , pencuri , sekelompok ibu ibu gendut yang cuman bisa bergosip dan mengomentari kehidupan orang lain padahal kehidupannya jauh lebih buruk



Dan aku hidup selama 6 tahun ditempat itu dengan bermacam ragam orang bermasalah didalamnya, meski aku mengatakan kebanyakan orang disana buruk sebenarnya yang baik juga banyak kok tapi apa ya? menurutku tempat itu melambangkan "Ini lah dunia saat ini" dan mulai dari situlah aku melihat berbagai macam kegelapan orang orang

"Saat aku menilai orang Gelap bukan berarti aku menganggap diriku Putih" jadi aku sadar aku juga memiliki kegelapan dan siapapun dia seseorang pasti punya sisi gelap..  karena itu aku mulai tertarik dengan hal "Sebenarnya apa itu manusia?" 


Yang aneh dari itu adalah pola pikirku yang seperti itu sudah terbentuk bahkan dari aku kecil istilahnya aku dewasa sebelum waktunya.. dan gara gara hal itu sampai aku kelas 2 sma aku sampai pada tahapan "Aku bukan Hitam ataupun Putih aku Abu-abu"

Dengan menyatakan bahwa aku ini abu-abu pola pikirku pun berubah aku gak mementingkan apa itu Benar(putih) atau salah(Hitam) karna aku Netral(abu-abu)..

Pasti masih bingung apa hubungannya dengan ekspresi datarku? akibat dari warna abu abu itu sekarang aku gak mementingkan warna seseorang, warna suatu masalah , atau warna apapun juga sebagai hal yang penting..Aku terus hidup dengan ngelangkahkan kaki tanpa beban dan dengan muka tanpa beban juga untuk menyatakan kalau permasalahan yang sedang kualamin sekarang ini sebenernya gak ada


Mungkin akibat dari terlalu santainya aku jalanin hidup tercipta lah Ekspresi datar ini cuma itu dan se simple itu aja kok :)

Rabu, 21 Maret 2012

Nisemonogatari



Berlatar di liburan musim panas sekolah, beberapa minggu sesudah akhir Bakemonogatari, Araragi Koyomi telah dipaksa(?) oleh dua gadis paling berarti dalam hidupnya, Senjougahara Hitagi dan Hanekawa Tsubasa, untuk melewatkan waktunya dengan belajar di rumah. Satu hari dilaluinya di bawah bimbingan Senjougahara. Lalu hari berikutnya akan ia lalui bersama Hanekawa.
Tapi kedamaian yang ia dapatkan berlangsung hanya sementara. Seorang pria asing bernama Kaiki Deishuu kembali hadir di kota. Dan kedatangan pria tersebut hanyalah awal dari serangkaian kesulitan baru yang harus Araragi hadapi terkait urusan-urusan supernatural; dimulai dengan masalah yang dihadapi oleh kedua adik perempuannya: Araragi Karen dan Araragi Tsukihi.
Aku agak malas menjelaskan sisanya. Tapi inti cerita Nisemonogatari (kurang lebih berarti ‘cerita tentang kepalsuan’), yang masih diangkat dari seri light novel karya Nisioisin, memang hanya sebatas itu. Ceritanya benar-benar hanya terkesan sebagai selingan, dan karenanya seri ini jelas tak semenonjol seri pendahulunya.

Araragi Karen                                                                                                Araragi Koyomi

                                                       

Araragi Tsukihi                                          Senjougahara Hitagi














Hanekawa Tsubasa                             Kaiki Deishuu































“Aku pacaran dengan Senjougahara…”


Ada dua bab utama dari seri ini, dengan masing-masing bab memberi fokus pada salah satu adik Araragi (Koyomi), yakni Karen Bee dan Tsukihi Phoenix.
Aku agak heran, karena inti cerita per babnya sebenarnya tak jauh berbeda dari durasi bab-bab di Bakemonogatari. Kalau begitu, apa yang membuat dua bab seri ini bisa sampai sepanjang 11 episode?
Apa iya semua waktu menonton kesebalas episode ini terbuang hanya lewat fanservice semata?
Damn.
Tapi tidak, tidak juga sih. Walau seri ini memang bisa dikatakan fanservice bagi penggemar seri Monogatari Nisioisin (dan pihak studio SHAFT selaku animator tampaknya memahami betul hal ini), dengan hampir semua tokoh lama tampil kembali dan bertingkah, asal kau cermati baik-baik, ada alasan tertentu kenapa semua ditatanya demikian. (Mungkin.)
Sengoku Nadeko yang manis tampil kembali di awal-awal cerita untuk mengingatkan kembali akan kesulitan ular yang dulu ia alami akibat rumor-rumor kutukan yang beredar. Diindikasikan juga bagaimana obsesinya terhadap Araragi memang sedemikian kuatnya, dan kelak menjadi pendorongnya untuk menjadi tokoh antagonis di seri-seri lanjutannya.
Kanbaru Suruga juga tampil kembali di awal-awal dengan memperlihatkan perkembangan keadaannya sesudah roh monyet itu mendiami tangannya. Gadis enerjik ini masih tetap mesum seperti biasa. Tapi diindikasikan bahwa kerabatnya, atau keluarganya, atau bahkan ibunya sendiri, mungkin berkaitan dengan Kaiki di masa lalu…
Hachikuji Mayoi, yang kini tak lagi merupakan roh tersesat, menjadi salah satu sosok yang paling Araragi bisa percaya tentang masalah-masalah supernatural ini, di samping bekas vampir Oshino Shinobu yang kini berdiam di dalam bayangannya. Kita diingatkan kembali akan detil hubungan mereka berdua. Hachikuji juga ditampilkan lebih sering di seri ini dibandingkan sebelumnya.
Berbicara soal Shinobu, digambarkan pula bagaimana hubungannya dengan Araragi mengalami perkembangan berarti di seri kali ini.
Oh ya. Berbicara soal judulnya sendiri, tema ‘kepalsuan’ memang memainkan peranan cukup besar dalam kedua bab seri ini. Aku tak tahu apakah itu hanya kebetulan atau memang menjadi sesuatu yang disengaja oleh Nisioisin. (:P) Tapi begaimana plot dan temanya secara apik menyatu pada kedua bab tersebut menurut merupakan hal yang benar-benar menarik.

Sengoku Nadeko                                                               Kanbaru Suruga



 Shinobu
Hachikuji Mayoi




















“…dan aku sangat suka Hanekawa…”


Kaiki Deishuu yang merupakan seorang penipu ulung menipu teman-teman sekolah Karen dan Tsukihi. Karenanya, Karen dan Tsukihi yang membentuk duo Fire Sisters menghadapinya untuk membuat perhitungan. Tapi hal yang tak mereka sangka terjadi, sehingga Araragi (Koyomi) jadi mesti turun tangan. Lalu dari sana terungkap pula bagaimana Kaiki juga pernah berkaitan dengan kesengsaraan yang dialami oleh keluarga Senjougahara, serta kutukan ular yang pernah menimpa Nadeko.



Bab Karen Bee kemudian diakhiri dengan konfrontasi atas Kaiki yang dilakukan bersama oleh Araragi dan Senjougahara. Dialog yang berlangsung pada adegan ini, seperti biasa, menjadi klimaks yang benar-benar menarik. (Walau mungkin tak seberkesan seharusnya sih.)
Bab Tsukihi Phoenix sendiri berkisah seputar identitas sesungguhnya dari Araragi Tsukihi, yang terungkap bersama kedatangan seorang wanita misterius bernama Kagenui Yozoru dan adik perempuannya(?), Ononoki Yotsugi. Pada bab ini juga dibeberkan kaitan yang Kagenui dan Kaiki pernah miliki dengan Oshino.








Tapi walau aku mengatakannya begitu, sebagian besar durasi Nisemonogatari benar-benar hanya diisi dengan fanservice sih. Fanservice-nya juga bukan tipe yang main-main, melainkan yang benar-benar mengeksploitasi sisi tak tahu malu Koyomi dan membuat para penonton berpikir, “Sial. Aku ingin membunuh orang ini. Aku ingin membunuh Araragi Koyomi. Aku ingin membunuh Nisioisin.”

    
He kissed his (not real) sister. Another reason why I want to beat Araragi.

wth

Begitu.
Terutama sehubungan dengan kelakuan Koyomi terhadap kedua adiknya.
Mungkin Koyomi memang main-main. Mungkin pembalasan Koyomi atas segala perlakuan buruk yang kedua adiknya pernah lakukan padanya di masa lalu. Tapi, yah, kau tahu maksudku.
Bagusnya, segala hal berarti dalam ceritanya nampaknya memang mereka sampaikan kok. Aku tak sepenuhnya yakin, karena porsi Tsukihi Phoenix jauh lebih sedikit dibandingkan Karen Bee. Tapi ceritanya sepertinya tertuntaskan, dan belum jelas apa akan ada ONA sebagai kelanjutan.
Mungkin ada alasan tertentu mengapa SHAFT membuatnya begini. Bisa jadi sebagian besar isi kedua jilid novel Nisemonogatari memang hanya basa-basi belaka.  Dan makanya hal-hal berarti itu dirasa cukup untuk disampaikan meski secara relatif dalam sekejap.
Aku sampai merasa mereka yang masih mengingat Unlimited Rulebook itu apa di akhir seri layak untuk mendapatkan pujian.

Kagenui Yozozru
 Ononoki Yotsugi( aku mengatakan ini dengan ekspresi)

“…tapi yang kelak ingin kunikahi cuma kamu, Hachikujiiiiii!” | “Gyaaaaaaa!”




Berbicara soal hal teknis, bila kalian sudah pernah melihat Bakemonogatari, maka kalian bisa membayangkan sendiri visualisasinya macam apa. Kebanyakan orang mungkin takkan terlalu mempedulikannya karena sisi nakalnya sih. Tapi kalau kuperhatikan baik-baik, kurasa cara SHAFT menangani visualisasi di Nisemonogatari benar-benar keren.
Timing setiap gerakannya itu bagus gitu. Benar-benar pas sesuai dengan suaranya. Efeknya tak terlalu kena ke kita karena ceritanya kayak gitu,tapi mungkin juga karena dunianya terkesan makin aneh, seri ini benar-benar enak dilihat kok. Begitu kau terbiasa dengan gayanya, tampilan Nisemonogatari bisa lumayan mengesankan secara bawah sadar.
Dari segi suara… hmm. Aku tak bisa bicara banyak sih. Lagu tema utama seri ini yang berjudul ‘Naisho no Hanashi’ dan memberikan warna ceria(?) dibawakan oleh pasangan duet ClariS. Meski bukan lagu supercell, Ryo yang bertanggung jawab atas aransemennya. Dan jadinya lagu ini memang menarik.                                

                                                 Dayum, aren't she a hot babe!
                                             
                               Araragi got what he deserved after what he had done during all of the episodes

Argh, sudahlah.
Singkatnya, kalau kau penasaran dengan kelanjutan Bakemonogatari, kau takkan punya pilihan selain menonton ini. Memang terkesan agak enggak guna sih. Tapi kalau melihat seri novelnya, seri ini memang akan menjembatani apa-apa yang akan terjadi selanjutnya, dan mungkin saja ada detil cerita (sangat) tersamar di dalamnya yang aku lewatkan.
Di sisi lain, kalau kau tak sebegitu maniaknya terhadap Bakemonogatari, maka seri ini takkan terlalu kurekomendasikan. Detil-detil soal apa yang berlangsung di dalamnya bisa kau cari di media lain, kalau-kalau suatu saat kelak ada lanjutannya yang akan menarik minatmu.
Hei, setidaknya kedua bab seri ini tetap berakhir manis.
Meski mereka tak banyak berperan di dalamnya, tampilan baru Senjougahara dan Hanekawa sesudah musim panas menjadi daya tarik lebih.
Lalu di akhir cerita, Senjougahara pun telah memotong rambutnya, menampakkan senyumannya, pertanda bahwa kepribadian dan perasaannya telah pulih seperti sedia kala.
Penilaian
Konsep: B+; Visual: A-; Audio: B+; Perkembangan: C-; Eksekusi: A-; Kepuasan Akhir: B

Selasa, 28 Februari 2012

Medaka Box


Aku sudah lama ingin menulis sesuatu tentang ini. Cuma masalahnya, aku bahkan hingga kini enggak yakin persisnya mau menulis apa.

Jadi begini.
Semenjak adaptasi anime Bakemonogatari keluar, aku menjadi semacam penggemar pengarang novel asalnya: Nisio Isin. Lalu sehabis beberapa kali menelusuri infonya di Internet, aku mengetahui bahwa beliau pernah juga menjadi penulis naskah untuk beberapa manga Weekly Shonen Jump terbitan Shueisha. Salah satu yang pernah beliau buat adalah one-shot berjudul Uruboe Uroborous yang dikerjakan bersama Obata Takeshi, yang juga merupakan penggambar untuk Bakuman dan Death Note. Tapi manga yang akan kuceritakan sekarang adalah serialisasi manga pertama berliau: seri aneh yang beliau kerjakan bersama Akatsuki Akira, Medaka Box. eh ngomong-ngomong sebentar lagi serial ini akan diadaptasi menjadi Anime oleh studio Gainax

Kotak Saran
Medaka Box benar-benar enggak bisa dijabarkan dengan kata-kata.
Ceritanya pada dasarnya berkisah tentang upaya-upaya gadis bernama Kurokami Medaka dalam menjalani tugas-tugasnya sebagai Ketua Dewan Siswa (seitokaicho; ketua OSIS) SMA Hakoniwa. Medaka adalah gadis cantik super jenius dan super atletis yang ingin bisa mengabdikan hidupnya untuk kesejahteraan dan kebahagiaan orang-orang lain. Sesudah terpilih menduduki jabatan ketua (meski masih hanya kelas satu) dengan kemenangan mutlak sembilan puluh sekian persen banding berapaa gitu, ia membuka layanan Medaka Box—kotak aduan di mana para murid bisa menyampaikan keluhan-keluhan mereka tentang sekolah ataupun kehidupan mereka secara anonim dan mendapatkan bantuan Dewan Siswa.
Dalam menjalankan perannya, Medaka berhasil menyeret teman masa kecilnya, Hitoyoshi Zenkichi, untuk mendampinginya sebagai pembantu umum (apa ini istilah yang tepat?). Berbeda dengan Medaka, Zenkichi adalah cowok sepenuhnya normal yang cuma berharap bisa menjalani kehidupan SMA-nya dengan damai—tapi sudah menjadi sifat dasarnya untuk bekerja sangat keras, terutama di bidang olahraga, agar dirinya bisa senantiasa mengimbangi Medaka.


Lalu di awal-awal, ceritanya seakan bertema tentang bagaimana keduanya bahu-membahu dalam mengatasi masalah-masalah para murid di sekolah. Keduanya di awal cerita lumayan kekurangan orang akibat betapa siswa-siswa lain merasa segan terhadap keunggulan Medaka—sampai-sampai di awal cerita, Medaka menjabat sebagai ketua, wakil ketua, sekretaris, dan bendahara sekaligus. Dipaparkan juga tentang seperti bagaimana persisnya hubungan Medaka dan Zenkichi, mengingat akibat kejeniusannya, Medaka tumbuh menjadi orang yang benar-benar aneh (sebagian tokoh menduga bahwa saking jeniusnya Medaka, dia sampai menjadi bodoh kembali).
Tapi kemudian cerita terus berkembang dan berkembang, sampai-sampai… hadir murid-murid berkemampuan super, adegan-adegan pertarungan terjadi, semakin banyak tokoh aneh yang muncul baik sebagai kawan maupun lawan… Pokoknya! Akhirnya terungkap bahwa SMA Hakoniwa adalah lahan percobaan untuk proyek rahasia yang disebut Flask Plan, yang merupakan suatu proyek eksperimentasi manusia jangka panjang untuk menghasilkan individu yang sempurna, dan Medaka hanyalah salah satu subjek dari hasil percobaan ini. Kenyataan inilah yang kemudian menjadi sumber dari segala konflik dan perselisihan yang Medaka dan kawan-kawannya harus hadapi selama mengemban jabatan sebagai Dewan Siswa di Hakoniwa!


Muncul orang-orang yang hadir di Hakoniwa yang memiliki kepentingan mereka terhadap proyek ini, dan Medaka hanya ingin menjaga ketertiban dan ketentraman bagi semua murid yang bersekolah di tempat ini.
…
Err… inti ceritanya masih enggak kebayang ya?

Terlalu Banyak Kutipan Bagus
Begitulah. Aku enggak bisa menjabarkan Medaka Box lebih baik daripada itu. Pokoknya, apa yang bermula dari bab-bab episodik tentang bagaimana Medaka dan Zenkichi membantu orang secara radikal berubah menjadi seri aksi/misteri/fantasi/sains-fiksi seiring dengan munculnya pihak-pihak yang hendak menjatuhkan Dewan Siswa. Mungkin dalam bahasa Bakuman, seri ini benar-benar merupakan sebuah seri aksi mainstream yang non-mainstream.
Jujur saja, tak banyak yang akan bisa tahan mengikuti seri ini. Sebab pemaparan cerita ini melalui dialog-dialognya bisa agak ngejelimet. Seperti manga-manga lain yang dibuat oleh duo penulis-penggambar, Medaka Box memiliki jumlah balon teks yang melebihi rata-rata kebanyakan manga. Ditambah lagi, sesuai kekhasan Nisio-sensei, tokoh-tokoh yang dipaparkan dalam cerita ini adalah tokoh-tokoh dengan kepribadian dan pola pikir luar biasa aneh.


Medaka misalnya, akibat suatu insiden yang ia alami bersama Zenkichi dulu, adalah orang yang telah memutuskan untuk mengabdikan hidupnya sepenuhnya untuk kepentingan orang lain. Tapi bukan berarti dia orang yang mengorbankan dirinya sendiri. Dia intinya memilih untuk menjadi sosok yang mendidik, membina, membesarkan dsb. yang bahkan di hadapan musuh-musuh yang mencelakainya sekalipun, masih berupaya agar semuanya bisa mencapai suatu win-win solution. Penggambaran hal ini begitu gila dan enggak realistis, apalagi dengan penceritaan cara Medaka mewujudkan hal ini. Tapi tetap saja perkembangan yang senantiasa terjadi berakhir memukau dengan cara yang aneh.
Jadi selain adegan-adegan aksi ‘ajaib’ yang dipenuhi kemampuan-kemampuan khusus, adegan-adegan perang mental turut mewarnai seri ini, selayaknya seperti yang bisa ditemui di Hunter x Hunter. Bagaimana perang kata berlangsung dan berakhir dengan berubahnya pandangan hidup sebagian tokohnya menjadi satu hal yang belum pernah kutemui di seri lain. Ditambah lagi, sebagai salah satu kekhasan seri ini, kemampuan-kemampuan ajaib yang para karakternya miliki terkait langsung dengan kepribadian dan cara berpikir mereka.


Salah satu tokoh antagonis paling berkesan, Kumagawa Misogi, dikisahkan adalah orang sangat rendah diri yang memandang dirinya sebagai pecundang lemah yang tak lebih baik daripada sampah—dan karena itu berupaya melakukan kudeta terhadap Dewan Siswa demi bisa memusnahkan orang-orang elit yang bersekolah di sana untuk mewujudkan pengharapan orang-orang rendahan seperti dirinya. Kumagawa memiliki kemampuan yang dinamainya All Fiction yang memungkinkannya meniadakan semua luka dan kerusakan yang terjadi pada tubuhnya, yang tumbuh dari pola berpikir di mana ia merasa bahwa semua penderitaan yang dialaminya sebenarnya tak ada, yang kurang lebih menjadi satu-satunya cara yang memungkinkannya menghadapi dunia.
Pemaparan hal ini begitu mendalam dan runut, kerap kali susah dicerna, dan terus terang seringkali berkembang dengan luar biasa berlebihan. Tetapi pada waktu yang sama, segalanya bisa begitu memikat bagi orang-orang yang bisa mencernanya karena memang penulisannya sangat cerdas.
Aku awalnya merasa kurang nyaman dengan gaya gambar Akatsuki-sensei. Di mataku, desain tokoh-tokoh yang dibuatnya sama sekali tak menarik. Tapi semakin ke sini, gaya gambarnya kurasa memberi nuansa teramat pas terhadap segala kegilaan di seri ini.


Abnormal, Plus, Minus, Not Equal…




Yah, di dunia ini memang ada seri-seri yang mengangkat tema atau ide cerita yang sama sekali tak lazim. Lalu seri itu menjadi menarik karena keunikan tema yang seri itu angkat. Seri-seri macam Air Gear dan Mushishi, misalnya. Kita enggak lagi peduli dengan karakterisasi atau plotnya. Oke, kita mungkin akan sedikit peduli dengan kualitas artwork dan kadar fanservice di dalamnya. Tapi intinya, kita bisa jadi suka dengan sebuah seri hanya karena temanya belaka.
Tapi Medaka Box itu aneh. Amat, sangat, aneh. Belum pernah aku nemu seri yang begitu sulit dijelaskan konsepnya kayak cerita ini.


Aku agak berharap seri ini bisa dilisensi di sini agar bisa secara nyata kukoleksi. Tapi dengan kadar fanservice yang tak segan-segan diberikan serta betapa twisted-nya tokoh-tokoh seri ini (tunggu, jangan bayangkan karya-karya Oh! Great dulu!), ditambah lagi dengan level dialog dan narasinya yang benar-benar sangat tinggi, aku agak ragu apa penerbit lokal sini bisa menangani seri ini secara baik. Yah, mungkin aku takkan putus harapan dulu bila ada beberapa LN karya Nisio-sensei diterbitkan resmi di sini dengan penerjemahan yang baik (pasti terjemahannya memerlukan banyak catatan kaki). Tapi gelagat sekarang ini kurasa tidak memungkinkan… (Sebagai contoh, belum lama ini aku membeli edisi pertama Hitohira terbitan MnC dan langsung membuangnya ke tempat sampah karena tak bisa memahami dialog-dialognya sama sekali.)

Oh ya. Aku juga takkan melupakan bagaimana di seri ini kerap ada adegan berdarah-darah. Ditambah dengan cara narasi/deskripsi Nisio-sensei tentangnya yang kerap membuat merinding.
Akhir kata, aku agak curiga bahwa alasan Medaka Box sedemikian berubah temanya di paruh awal cerita adalah agar tak bentrok dengan Sket Dance yang diserialisasikan di majalah yang sama. Tapi perkembangannya yang gila dan enggak terbayangkan itu benar-benar menyadarkanku akan betapa banyaknya cara berpikir manusia di muka bumi ini.
Entah ya. Meski sekilas enggak penting, seri ini beneran membukakan mata? Kurang lebih begitu.

Sumber:http://alfare.wordpress.com

Jumat, 17 Februari 2012

5 Centimeters Per Second




Kata-kata cinta yang sulit untuk terucap, surat-surat yang hanya tersimpan di laci, dan pesan-pesan sms yang tak pernah terkirim. Hal-hal yang seharusnya mudah untuk tersampaikan kepada seseorang yang kita sayangi. Terasa sangat berat untuk dilakukan. Hingga akhirnya waktu berlalu, meniupkan masa depan yang berbeda. Berbeda dengan apabila hal-hal tersebut dulu dapat tersampaikan.

Itulah sekiranya yang Aku tangkap dari film berjudul 5 Centimeters per Second. Sebuah film animasi garapan CoMix Wave yang disutradarai oleh Makoto Shinkai.

Bercerita tentang seorang anak SD bernama Tohno Takaki yang menyimpan perasaan terhadap Akari, teman sekolahnya yang juga mempunyai perasaan yang sama. Hingga pada suatu ketika mereka berpisah saat kelulusan SD, dimana Akari harus mengikuti orang tuanya pindah ke luar kota.

Meski terdengar klise, tema itu mampu diceritakan dengan begitu menarik dalam film ini. Perasaan Takaki kepada Akari begitu pula sebaliknya - yang seharusnya dapat begitu mudah disampaikan ketika masih berada di satu sekolah - tampak begitu sulit tersampaikan. Hingga Akari pindah ke tempat yang jauh - yang untuk menemuinya saja membutuhkan perjuangan - semakin membuat perasaan mereka sulit untuk bertemu. Sampai kemudian giliran Takaki sendiri yang harus pindah sekolah mengikuti orang tuanya. Membuat jarak diantara keduanya menjadi kian renggang.

Sesuai judulnya, 5 Centimeters per Second : a chain of short stories about their distance, adalah tentang bagaimana hubungan mereka (antara Takaki dan Akari) merenggang dan menjauh seiring berjalannya waktu (5cm per detik - mungkin), karena perasaan yang tak tersampaikan lebih awal, hingga akhirnya tidak pernah tersampaikan sama sekali.


Dihiasi dengan lagu tema berjudul "One More Time, One More Chance" yang dibawakan dengan sangat bagus sekali oleh Masayoshi Yamazaki, begitu menyatu sekali dengan tema cerita, menambah kesan sendu dan menyentuh dari film berdurasi satu jam ini. Bagaimana perasaan Takaki kepada Akari sangat tergambar jelas dalam lirik lagu tersebut.

Overall, meski sangat klise, film ini mampu menyuguhkan sisi lain dari sebuah 'cinta monyet'. Periode cinta yang paling awal dan mungkin paling manis dalam kehidupan manusia. Sangat polos dan simpel antara dua anak manusia, serta bagaimana kemudian cinta itu kandas di tengah jalan. Tema cerita semacam itu akan selalu menggelitik setiap manusia untuk mengingat masa lalunya masing-masing.


Tak hanya mengandalkan cerita yang bagus, film ini juga menyuguhkan tampilan animasi yang memukau dan setting yang detail. Aku sendiri berpendapat, dari beberapa segi, mungkin ini adalah salah satu film animasi Jepang terbaik yang pernah kutonton. So, menurut ku, rating untuk film ini ada di 8,0/10, sebuah film yang tidak boleh dilewatkan.


Judul : 5 Centimeters Per Second
Genre : Drama, Romance
Sutradara : Makoto Shinkai
Produser : Makoto Shinkai
Penulis : Makoto Shinkai
Musik : Tenmon
Studio : CoMix Wave Inc.
Rilis Pertama : 3 Maret 2007
Durasi : 65 menit


Oleh :Fun otaku